Ada Netizen Marah-Marah
Beberapa hari yang lalu
alam Twitter dihebohkan oleh komentar netizen yang menanggapi unggahan Eka
Kurniawan @gnolbo yang dikutip dalam novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan yang berisi “Semua perempuan
itu pelacur, sebab seorang istri baik-baik pun menjual kemaluannya demi mas
kawin dan uang belanja, atau cinta jika itu ada.” Kemudian, pada
6 Oktober 2021 lalu, seorang netizen @BgsrRm --- akunya sudah nonaktif--- berkomentar seperti ini “Yg nama nya eka
kurniawan FIX GOSAH LU TEMENIN sp yg tau doi bacok aj ato geprek otaknya. Bisa2
cok mereprentasikan wanita sbg pelacur dan makai kata 'semua perempuan pelacur.’
Dia keturunan lonte ibuknya neneknya
mbaknya, adek cwenya, sodara2 cwe nya lonte semua bangsat!,"
Semua berawal saat twit repost video di
akun mention confess (menfess) menyebabkan seantero alam Twitter terperangah
dan mulai merenungkan kedaruratan membaca di Indonesia. Twit itu membuat Eka
Kurniawan, novelis Indonesia yang sudah go internasional, orang yang
digadang-gadang indonesianis Benedict Anderson sebagai penerusnya Pramoedya
Ananta Toer dan Anderson sebut sebagai “Indonesia’s most original living writer
of novels and short stories, and its most unexpected meteorite”, kini tengah
terancam tak punya teman. Video yang direpost itu berisi potongan sangat pendek
dari wawancara TV dengan seorang pekerja seks komersial.
“Apa sih yang membuat
Ayu masih bertahan di profesi Ayu yang sekarang?” tanya pembawa acara.
Narasumber yang
dipanggil Ayu ini menjawab, “Sejauh ini sih karena… ini menurut gue ya, ini
mengutip dari buku yang gue suka, ada salah satu buku, “Semua perempuan itu
pelacur. Istri baik-baik pun menjual kemaluannya demi mas kawin ataupun uang
belanja dan cinta, jika itu ada. Dan lagi, pelacur itu penjaja seks komersial,
sementara istri itu menjajakan kemaluannya secara sukarela. Dan gue nggak suka
(bercinta) kalau nggak dibayar.” Kutipan itu dikatakan Dewi Ayu saat menolak
lamaran Maman Gendeng, preman Halimunda sekaligus orang ke-32 yang meminang
Dewi Ayu.
Melalui akun Twitter resminya @gnolbo, Eka
Kurniawan juga menanggapi cuitan yang diketahui telah dihapus tersebut. “Bahaya
baca buku, atau bahaya tidak membaca buku?” tulis Eka Kurniawan melalui cuitan
yang kini telah mendapatkan lebih dari 12 ribu suka tersebut. Novel Cantik Itu Luka bercerita tentang Dewi Ayu,
seorang pelacur bereputasi di Halimunda, sebuah desa kecil di pinggiran pantai.
Tanpa bersuami dan ada pernikahan, Dewi Ayu memiliki empat putri. Tiga putri
yang pertama terlahir dengan kecantikan yang luar biasa. Sedangkan si Bungsu
ditakdirkan berwajah buruk rupa. Diceritakan bahwa Dewi Ayu dan anak-anaknya
yang cantik memporakporandakan kehidupan laki-laki di desa mereka. Seksualitas
mereka menghancurkan hidup dan tidak jarang mengakibatkan penderitaan bagi para
lelaki.
Lantas, bagaimanakah cara untuk memahami
sebuah karya sastra berupa novel. Hal pertama yang harus disadari adalah
memposisikan diri untuk tetap berada dalam ruang seni atau kreativitas dan
sepatutnya keluar dari ruang eksakta. Kedua ruang tersebut jelas sangat berbeda
dalam kreativitas nilai-nilai fiksi dan keindahan ditonjolkan sedangkan dalam
ruang eksakta nlai-nilai fakta yang ditonjolkan. Menurut Pidi Baiq, “Kreativitas
adalah jika jawabanmu sama dengan umum, maka kamu salah/menyontek/tidak unik,
sedangkan eksakta jika jawabanmu sama dengan umum, maka kamu benar.” Perbedaan
penafsiran dalam membaca karya sastra merupakan hal yang biasa terjadi dan
sah-sah saja.
Ada beberapa tip untuk memahami karya
sastra menurt Profesor Dr. Andries "Hans" Teeuw atau biasa dikenal
dengan Andries Teeuw, secara garis besar, kegiataan pembacaan, pemahaman dan
penilaian karya sastra perlu menggunakan perangkat teori sastra yang komprehensif.
Agar tidak mudah terpancing emosi sebagai pembaca karya sastra, harus sudi juga
membaca teori sastra. A. Teeuw membagi tiga aspek yang perlu dikuasai pembaca
sastra; pertama, memahami sistem kode bahasa, kedua memahami kode budaya,
ketiga memahami kode bersastra yang khas.
Cuitannya mendapat banyak respon hingga
dihapus, pemilik akun tersebut berganti mengunggah permintaan maaf kepada Eka
Kurniawan. “Kemarahan Anda sangat wajar. Kita marah pada segala yang
merendahkan,” terang Eka Kurniawan merespon permintaan maaf @BgsrRm pada 10
Oktober 2021. “Yang terjadi pada Bung dan saya adalah urusan tak membaca
kutipan itu dalam konteksnya, yang tentu bisa diperbaiki dg membaca dan bicara
dg pikiran terbuka. Sehat selalu,” tandasnya. Dari sini kita belajar betapa
pentingnya mengetahui konteks, dan betapa berbahaya memahami isi tulisan dalam
buku setengah-setengah.

Komentar
Posting Komentar