Oh sial, presidenku seorang broker
Kau jual harapan-harapan yang lusuh,
Pada mereka yang lapar tapi tak butuh
Negeri menjelma peta, garis harga di atas meja,
Setiap senti: kisah yang terpenggal, terkulit
Senandung di mimbar bukan lagi rindu,
Melainkan tawar-menawar yang pasung
Senyum itu kau tempel di media,
Bagai topeng yang lekat, palsu, dan sepi
Di bawah langit khatulistiwa
Jutaan hektar lobang menganga
Hutan-hutan menunduk, akar-akar terkulai
menyaksikan langit tertutup kepulan emas abu
Burung-burung hengkang, suara riuh deru genset,
Dan tangis gajah yang tak lagi mengenali sungai untuk mandi anaknya
Di ujung lorong, ada harta nestapa:
Gunung-gunung yang patah, lembah yang punya luka terbuka
Tapi mesin tak pernah berhenti mengunyah,
Sampah bumi kita berubah menjadi perhiasan di pergelangan tangan tamak
Dan ketika hujan turun, tanah menuntut balas:
Longsor merah menyapu tenda-tenda, mengubur cerita
Lalu sunyi kembali, sampai detik berikutnya,
Ketika bor-bor baru mulai menggali liang kubur yang sama
Taukah mereka baru saja mati harapan seorang bocah dililit buku dan pena.
Dengarkah mereka ada seorang anak memilih untuk menyudahi hidup demi menyelamatkan hidup ibunya.
Di sebelah kiri: buku, dan pulpen
Di sebelah kanan: dompet ibu yang keriput,
Ibu yang menghitung beras hingga butir terakhir
Anak itu berdiri setiap pagi,
Menimbang-nimbang dengan mata yang berbinar.
Buku tulis lima ribu, pulpen dua ribu,
Tapi uang saku cuma secarik doa
Setiap pagi gurunya berkata: "Tuliskan cita-citamu!"
Tapi dia hanya menatap kertas yang putih bersih,
Jari-jarinya saling silang menggenggam
Dia hitung berapa hari ibu harus cuci baju
Untuk sesuap nasi tanpa lauk di hari petang
Buku pelajaran hanya museum yang tak terjangkau tiketnya
Senja mendapatinya tengah tidur,
Di sampingnya daftar harga barang sekolah
Dan secarik doa: "Maafkan saya Ibu"
Kini ada kursi kosong di kelas empat,
Dan satu pertanyaan yang mengganjal di papan tulis:
"Berapa harga seorang anak yang ingin belajar?"
Tapi kantin sekolah hanya menjual jajanan, bukan jawaban.
Ibu-ibu menangis di pos ronda, melihat neraka diTVnya yang semakin dekat ke nafasnya.
Sementara jakarta menguapkan Rp335 Triliun untuk program makan bersama.
Dari sepuluh ribu harga untuk sebuah buku dan pena, berapa miligram dari 17trilyun yang disumbangkan oleh prabowo ke donald trump
Komentar
Posting Komentar