Jejak yang Hilang
Di telapak tangan yang dulu memberi,
terselip bayang hitungan tak kasat mata,
seolah tiap kebaikan adalah utang,
yang kelak wajib kembali bersam bunga luka.
Ia tak memberi dengan sunyi,
melainkan dengan gema yang berulang,
mengungkit waktu, tempat, dan alasan,
seakan ingatan adalah alat untuk menekan.
“Dulu aku…” menjadi kalimat abadi,
yang menghantui setiap langkah penerima, "Kalau gak ada aku..."
kebaikan berubah jadi rantai,
yang mengikat tanpa terlihat wujudnya.
Padahal memberi mestinya seperti hujan,
jatuh tanpa memilih siapa yang layak,
mengalir, hilang, lalu dilupakan,
tanpa meminta langit dikenang.
Namun ia memilih jadi gema,
yang terus kembali walau tak diminta,
dan di situlah kebaikan kehilangan makna,
berganti rupa jadi kebusukan yang hina.
Komentar
Posting Komentar