Seorang Ibu Rela Mematahkan Punggung demi Memberi Makan Anak
Kala fajar belum merekah
dan mukanya masih kuyu
dengan gais-garis motif tikar melingkar sepanjang pipi
tentang mimpi yang belum selesai
dan malam tak mengusir lelah
tetap tegar menyapa bunga mendayu disilau ponselnya
Cincinya telah lama patah
menyisakkan noda hitam dijarimanisnya
janji yang tak sempat dipigurakan
buku hijau yang terlau cepat dikembalikan
dan diatas pangkuannya ada dua pasang mata yang menatap penuh tanya
Keringat yang tak terhitung lagi mengalir deras
tulang rusuknya tak pernah mengeluh retak
tulang punggungnya tak pernah meringis di depan kaca
bunga kuncup yang kian merekah
mengarsir senyum setiap lelah
Punggung yang mulai menguning, bukan karena usia
tapi, karena musim yang tak pernah paceklik
dihempas panas, dihantam hujan
batangnya tak pernah membelakangi mentari
semua boleh sakit kecuali Ibu
jika Ibu sakit dunia berhenti
Komentar
Posting Komentar