Winnie The Pooh
Azan Subuh segera menggema setelah seorang disana memberitahukan kalau sebentar lagi akan masuk waktu subuh. Hanya itu satu-satunya alarm yang aku miliki. Aku segera menghampiri kran air yang tak pernah bisa tertutup rapat. Kubasuh wajahku sekadar memisahkan mimpi dengan kenyataan.
Aku tinggal bersama seorang suami dan buah hati kami Adryan yang berusia satu setengah tahun. Azan pun berkumandang merdu sekali. Kain kuhamparkan ke arah barat, bersiap unuk solat. Setelah menyiram buah hatiku, kini giliranku untuk mandi. Kostum beruang yang sudah menunggu di belakang pintu mulai ku pasang satu persatu dari bagian kaki, perut, terus hingga kepala. Entah kenapa aku menyukai kostum ini dari sekian banyak kostum yang Pak Ibad tawarkan.
Kostum beruang kuning ini sudah kupakai sejak 4 tahun silam. Kostum badut yang orang kenal dengan nama Winnie The Pooh. Semua terasa sama hanya saja warnanya mulai luntur terenggut panasnya mentari dan basahnya hujan. Aku menyewanya seharian dengan biaya sekitar 20% dari penghasilan harian.
Ayam jago peliharaan suamiku sudah berkokok keras sekali, itu menandakan sudah waktunya untuk mengais rezeki ke warung-warung, rumah-rumah yang pintunya terbuka, dan di jalanan. Perlahan Adry ku angkat untuk ikut bersamaku mencari uang. Menghampiri dan menghibur orang-orang yang aku lewati dan berharap salah satu dari mereka memberikan sebagian rezekinya untuk badut ini.
"Ya, Tuhan semoga hari ini tidak hujan" Doaku dalam hati
"Bu, Ayah berangkat duluan ya" Suamiku perlahan menutup pintu
"Iya, hati-hati. Jangan lupa berdoa Yah" Sahutku
Tangan kanan memegang ember bekas cat, tangan kiri membawa speker kecil, dan di tengah menggendong anaku yang masih tidur. Beruntunglah anakku tidak pernah rewel setiap kuajak bekerja. Sebenarnya aku punya kakak dan bisa saja anakku dititipkan sama dia tapi aku tak bisa bekerja dengan tenang kalau harus menitipkan anakku dengan orang lain. Biarlah anakku tetap bersamaku dan masih bisa aku urus dan jaga sebaik-baiknya.
Tak terasa matahari sudah sejajar di atas kepala. Sudah waktunya membeli makanan untuk kami berdua. Uang yang sudah terkumpul dari beberapa rumah dan warung sepertinya cukup untuk membeli sepotong roti dan seliter air mineral. Aku mencari tempat yang sepi dan teduh untuk menyusui anakku.
Matahari sudah melipir ke timur. Aku bergegas menghibur para pengemudi sepeda motor dan juga pengemudi mobil. Setiap 40 detik aku berlenggak lenggok di atas zebra cross dengan harapan ketika kulihat lampu berwarna hijau menyala emberku terisi banyak uang.
"Lumayan sudah masuk beberapa lembar Rupiah dari ungu hingga abu-abu" syukurku dalam hati
Aku duduk sejenak setiap lampu hijau menyala. Aku istirahatkan sekejap ragaku yang mulai lelah ini. cahaya-cahaya buatan mulai menyala, langit gelap. Terlihat suamiku melambaikan tangan di ujung jalan di bawah tiang lampu jalanan. Ia sudah datang menjemputku untuk pulang bersama berjalan kaki bersama. Adryan yang terbangun lantas digendong oleh ayahnya sampai di rumah.
Setelah diambil dan dikumpulkan lembaran uang dari yang ketas sampai yang koin. Kini saatnya untuk menghitungnya. Syukurlah hari ini banyak dermawan yang memberikan sebagian rezekinya padaku. Kuhitung perlahan dengan teliti dan hati-hati totalnya Rp 134.200 dan akan disetorkan ke Pak Ibad Rp 25.000.
Komentar
Posting Komentar