Tangan yang terbalik
Dalam hatinya, dunia hanyalah angka,
setiap langkah diukur dengan untung rugi,
tak ada yang benar-benar tulus,
bahkan senyum pun punya nilai tersendiri.
Ia menimbang kebaikan di neraca,
menghitung waktu seperti koin berjatuhan,
setiap detik harus kembali berlipat,
tak boleh ada menit terbuang percuma.
“Berapa yang kudapat?” jadi doa harian,
mengalahkan tanya tentang makna,
hidup berubah jadi lembar perhitungan,
tanpa ruang untuk rasa yang sederhana.
Padahal tak semua perlu dijumlah,
tak semua harus dibagi rata,
ada hal yang cukup dirasakan,
tanpa perlu angka bicara.
Namun ia terus menulis kredit-debit di bebatuan,
saldo yang tak terlihat,
hingga lupa…
bahwa hidup bukan sekadar hitung-hitungan,
melainkan juga tentang memaknai keiklasan
Komentar
Posting Komentar