Pertapa yang Tumbang di Kaki Dunia


Dulu ia duduk bersila di atas awan meditasi
jubah jingga bersinar ditelan sorot kamera
tangan terlipat damai di dada
sementara jutaan jempol mengangkat namanya
ke langit-langit dunia maya

Ia bicara tentang sunyi
tentang melepas
tentang api yang tak perlu dinyalakan
namun setiap kata menjadi panggung
setiap senyum menjadi konser
setiap nafas dihitung algoritma

Layar-layar menyala seperti lilin doa
yang salah alamat
Followers datang berbaris
bukan untuk mendengar Dhamma
tapi untuk menonton wajah yang tenang
di tengah dunia yang gelisah

Lalu datanglah godaan
tak berupa setan bertaring
tak berupa perempuan bermata genit
tapi notifikasi
tapi pujian
tapi angka yang naik seperti ombak
yang tak pernah surut

Ia mulai menunggu
bukan kedatangan pagi
tapi kedatangan like
Ia mulai rindu
bukan pada nibbana
tapi pada sorot lampu studio

Suatu hari jubah itu terasa berat
bukan karena kain
tapi karena birahi menapaki surga
Ia mencoba duduk bersila
tapi pikirannya berlari ke kotak-kotak donasi
ke kotak amal,
ke bawah dunia yang selalu menuntut lebih

Dan sang biksu pun tumbang
bukan di medan perang
bukan di hutan sunyi
tapi di ruang makan
di atas meja bundar
dengan layar biru menggenggam jiwanya
memoles tasbih lembut asal daging
melumat sukma berbau tajin
nirsalam utusan lain datang
membawa ketakutan
tanpa permisi
dan lupa bahwa mata telah menyimpan semua peristiwa
di balik langit
di celah berhala
lalu, kesebar ke seluruh penjuru alam

Nirwana bergetar
Langit terbelah
Dunia menang
selangkangan tenang
bukan dengan pedang
tapi dengan tepuk-tepuk uang
Dan ia tersenyum getir
menyadari satu hal:
bahwa sunyi yang ia amalkan
pembumian yang ia tampilkan
tak pernah benar-benar ia resapi
hanya ia pamerkan

untuk setiap lentera yang lupa
bahwa ia pun bisa padam
karena terlalu sibuk menerangi
apa yang tak perlu dilihat.

Komentar

Postingan Populer