Baik-Baik Saja
Setiap pagi ibu selalu membuka tirai yang
menghalangi sapaan mentari, menyeka kaca jendela basah membiarkan udara-udara
segar memasuki paru-paru anak-anaknya. Orang-orang selalu menyapanya, dibuntuti
tarian dan kicauan burung-burung merpati yang bertengger di pohon rambutan dan Ibu
membalasnya dengan lambaian tangan dan senyum yang membuat merpati itu semakin semangat
menari dan bernyanyi. Cinta adalah
dorongan paling besar untuk tetap menjalani hidup sebaik-baiknya.
“Rapihkan lagi kasurmu” seru ibu sambil membuka
jendela
“Iya, Bu. Sudah masak apa Bu?” tanya anak sambil
mengucek mata
“Ikan sarden dan telor dadar”
“Makan yuk Bu”
Aku rasa ibuku berasal dari tetesan sinar mentari,
setiap pagi ia temukan sesuatu yang dapat diresapi dan setiap sore ada sesuatu
yang dapat direnungkan. Pagi bagaimanapun entah hujan, banjir, petir, badai,
dan bahkan kemarau kalau sudah melihat ibu tersenyum dan memberiku uang sangu
untuk ke sekolah, pagi itu menjadi cerah. Aku bergegas langsung ke sekolah
dengan tas selempang dan beberapa buah buku. Ditengah perjalanan aku
terpikirkan ibuku, apakah nanti aku bisa menjaga kebahagiaannya? Apakah aku
bisa meringankan beban ekonomi orangtuaku? Bagaimana kalau setelah lulus
sekolah aku menganggur dan menjadi beban ibuku? Bagaimana kalau ekspektasi ibu
bapaku tidak sesuai dengan kemampuanku?
Aku merenung sepanjang perjalanan, bagaimana caranya untuk bisa
membahagiakan orangtuaku selama bumi mengitari matahari dan ruh masih menggerakkan
jasad ini?
Pagi ini tepat pukul 06.40 WIB. Aku tiba dikelas
masih sunyi dengan kursi-kursi berdebu, papan tulis dengan catatan sisa
kemarin. Delapan jam kedepan akan dibina oleh orangtuaku di sekolah, ya benar
dia adalah guru. Guru yang selalu dipuji dengan menyematkan istilah “Pahlawan
tanpa tanda jasa” tetapi hidupnya masih jauh dari kesejahteraan kecuali guru
dengan nomor induk pegawai dibawah namanya yang terpampang dibagian atas
kantung kemeja. Dalam lingkup pendidikan, guru adalah faktor paling penting
dalam mewujudkan bangsa yang cerdas dan berbudi pekerti mulia. Orang hebat bisa melahirkan beberapa karya
bermutu tetapi guru bermutu bisa melahirkan jutaan orang hebat.
Dedaunan kering bertebaran sehabis kena sapuan oleh
ibuku. Debu, pasir, dan serangga kembali lagi ke habitatnya.
“Assalamualaikum”
aku sambil mencium tangan ibu
“Walaikumussallam,
dimeja ada es teh dan cemilan. Makan dulu sana” ibu sambil menunjuk ke arah
meja makan
“Iya, Bu. Apa ibu sudah makan?”
“Sudah, sehabis makan kamu anterin ibu ya ke pasar”
“Iya siap, Bu.”
Jika muncul pertanyaan, siapa yang paling adil di
dunia? Pasti jawabannya adalah ibu. Kenapa?
Ibu adalah contoh teladan manusia yang adil karena
ibu mampu berbagi makanan untuk anaknya sejak dalam kandungan, berbagi tempat
tidurnya, berbagi privasinya, berbagi keluh kesah dan suka citanya, rela
mendonorkan darahnya berupa ASI sampai sekitar dua tahun, dan berlanjut hingga
tumbuh remaja kemudian dewasa. Bahkan untuk makan saja masih sering berbagi
dengan anak-anaknya yang sudah remaja, tak pernah ia risaukan bagaimana
kesehatannya sendiri. Jangan berkata dan
bersikap yang dapat melukai perasaan ibu, dan bahkan kamu sendiri tidak suka
dengan itu. Aku sudah terlahir sebagai orang sukses karena aku sudah
mewujudkan impian orang tuaku, yaitu mempunyai anak. Alhamdulillah. Hadiahilah
ibu mu dengan sandal yang sederhana tak perlu mahal asalkan alasnya kuat,
setidaknya surga mu tak tergores. Orang
tua tidak pernah khawatir jatuh miskin memberi nafkah pada anaknya, tapi
kebanyakan anak sering khawatir dan panik hidupnya akan sangat miskin saat
menafkahi ibu bapak dimasa senjanya.
Ahmad Arpan Arpa (dalam buku Antologi Cerpen "Aku Pilih Kamu" hlm. 80)
Komentar
Posting Komentar