Jejak Langkah
Kaki
itu melangkah berpasangan
Sepatu kulit --- nyeker saling menopang
Bersuara dalam goa-goa kedap suara
Melompat dari satu tiang ke tiang yang satu
Lahir dari perasaan cemas dan kelaparan
Berjuang melawan paduka yang mabuk kekuasaan
Gempa
di pesisir, gelombang pasang tak terbendung
Mereka menyebar ke desa sampai ke kota
Mendengar suara mendaki-daki setiap hari
Membaca selebaran perbantuan entah kemari
Muak
Tangisan dan rintihan manusia yang mengikat erat perutnya
Pribumi dibuang dari tanahnya sendiri, sebab tak mampu bayar sewa
Kerling priayi menyaksikan pemalas tersiksa
Pembangunan
ini untuk apa?
Akankah akar rumput merasakan pupuk yang diimport
Daun-daun gugur beterbangan diasuh angin
Tanah kering rimbun bebatuan
Sungai menyusut ikan-ikan mati
Namun pijaran dipucuk tongkat itu tetap menyala
Kabar
apa yang sangat menohok
Di negeri yang paradok
Sapi mengawini sapi lahir buaya
Di tanah berbahaya semua pasti bisa
Rentetan
langkah terhenti pada sebuah pagar berduri
Namun suara-suara itu tak akan cukup disini
Cacing perut mendongkrak agar tetap lantang
Seusai kewajiban terpenuhi
Menagih hak-hak yang sudah diikrarkan
Namun dijawab dengan kokangan
dan semburan hujan buatan
Aku
termangu heran membayangkan tanah kelahiaran porak poranda
Digerus penjahat intelek yang ilmunya ditimba di negeri luar nun jauh disana
atau di tanah sendiri milik leluhurnya
Apalah arti negeri maju jika rakyatnya saja terseok-seok demi sesuap nasi
Posisi-posisi strategis sudah di pre-order
oleh mpunya kuasa
Independensi wajib dikembangkan sendiri pada insan yang ingin berkembang
Aku
merenung pada lima waktu yang diwajibkan
Lima juta anak-anak tanpa pendidikan yang wajib
Tujuh juta sarjana menganggur sembari ambil SKS prakerja
Dua juta UMKM menutup jendela menggulung tikarnya
Jutaan lansia risau lahan perkebunan kian menyusut
tanah garapan pun sukar didapat
Janda tua hanya sanggup menyulam air matanya
Pagi
tiba meniupkan tanya mengapa
Di tengah pematang sawah yang akan panen padi
Siang maki menyengat membabi buta
Menyuapi merpati dengan sepotong roti
Rembulan bersinar, bintang tersebar membentang menerawang terang
Berbaring pulas dengan tornado diperut tak kembali hingga kenyang
Komentar
Posting Komentar