Di Gerbong Kereta

Di rel yang hening, fajar pulang sempurna,
besi berderak membawa harap manusia,
Roda bergesek berlari tak kebal waktu,  waktu tak suka menunggu
Di gerbong sesak mengangkut mimpi, doa, dan rindu.

Kabut tipis menyelimuti jalan panjang,
lampu redup menembus gelap yang tenang,
namun takdir berbisik dalam diam,
menyimpan badai di balik kelam.

Sekejap saja terantuk-antuk dentuman menghantam,
jerit pecah, waktu pun terhentang,
besi bertekukkan, teriak memekakkan, kamera menyoroti,
hidup dan mati saling berdekapan.

Kaca pecah bagai hujan luka,
tubuh terhempas terhimpit tanpa arah dan makna,
di antara serpihan dan runcingan yang menyala,
tangis menggema, pilu tak terhingga.

Ada yang mencari, ada yang hilang,
nama dipanggil di antara bayang,
tangan menggenggam harapan terakhir,
namun terlepas bersama takdir.

Rel kembali sunyi, pagi pun datang,
menyisakan cerita yang takkan hilang,
tentang perjalanan yang tak sampai tujuan,
dan jiwa-jiwa yang pulang dalam kegemparan.


Komentar

Postingan Populer