Melumat Takdir
Pada langkah-langkah yang lelah
Bayangan berhenti, bukan karena basah
melainkan karena sadar
tak semua hujan bisa dipaksa cair
Kepalan sempat menggenggam harap
seerat doa di malam gelap
namun waktu, diam-diam mengikis
hingga yang tersisa hanya napas yang tipis
Pemelajar dari jatuh yang berulang
bahwa irasionalnya dunia tak selalu bisa ditafsirkan
bahwa ada hal-hal yang memang harus dilepas
Seperti bayang-bayang yang lenyap dikala gelap
Kini, duduk akrab bersama sunyi
tak lagi bertanya “mengapa ini terjadi”
ia hanya menunduk, lalu berbisik pelan
“mungkin ini yang terbaik, meski bukan yang kuinginkan”
Dalam kegetiran pasrah yang tak mudah patah
Waktu menuntun jalan damai yang perlahan bangkit
sebab langkah takdir bukan untuk disesali
melainkan diterima...
Komentar
Posting Komentar