Haruskah Kebaikan Direkam?
Haruskah kebaikanku direkam?
Pantaskah jika kugantikan tugas malaikat untuk mencatat setiap perbuatanku?
disimpan rapi dalam bingkai pujian?
diputar ulang saat bising datang?
agar dunia tahu, aku pernah memberi?
Bukankah tangan yang tulus
tak perlu saksi selain hati?
Bukankah niat yang bersih
tak butuh gema dari tepuk tangan?
Atau, puja puji yang keluar dari saku-saku yang kuisi?
Aku ingin seperti udara,
menyentuh tanpa terlihat,
terhisap tanpa sesak,
menyejukkan tanpa disebut,
lalu hilang tanpa jejak.
Namun, dunia gemar menghitung,
menimbang, mencatat, dan menuntut pamrih,
seakan kebaikan adalah transaksi,
bukan sekadar napas kemanusiaan.
Sekali lagi, haruskah aku merekamnya?
Atau biarkan saja ia mengalir—
jatuh diam ke tanah kehidupan,
dan tumbuh tanpa pernah bertanya siapa penaburnya.
Komentar
Posting Komentar