Menimbang Thukul: Sajak Melawan Kebisuan
Menimbang Thukul: Sajak Melawan
Kebisuan
Oleh Hasan Aspahani
PENYAIR, kata Wiji Thukul dalam
pengantar buku kumpulan sajak lengkapnya “Aku Ingin Jadi Peluru”
(Indonesiatera, Cet. I 2000, Cet. II 2004), harus berjiwa bebas dan aktif.
Bebas mencari kebenaran. Aktif mempertanyakan kembali kebenaran yang pernah
diyakininya.
Sampai pada kutipan itu saja,
saya sudah harus membuka dan angkat topi bagi kepenyairannya. Thukul
mengajarkan sikap tawaduk, rendah hati, dan menjauh dari kesan anarkis yang
banyak dilekatkan padanya mengingat dia adalah seorang yang kerap berada di
tengah pusaran badai perlawanan gerakan buruh.
Penyair ini di tengah kerepotan
dan kepungan kepentingan untuk mempertahankan hidupnya dan keluarganya,
tetaplah penyair yang rindu pada kebenaran, sesuatu yang nyata ada tetapi
selalu abstrak itu. Kebenaran yang dicari dan ditemukan oleh jiwa yang bebas.
Tetapi, di sinilah ironisnya, dan disitu juga ketinggian pencapaian sikap
Thukul terbaca: Ia sadar tidak ada kebenaran yang mutlak, kecuali milik Tuhan.
Maka, penyair harus aktif. Aktif
mempertanyakan kembali kebenaran yang pernah ditemukan, dipegang dan diyakininya.
Dengan kata lain, si penyair, harus meragukan lagi apa yang pernah diyakininya.
Barangkali, Wiji Thukul mencomot
dengan main-main kalimat ‘bebas dan aktif’ itu dari kata-kata populer kebijakan
luar negeri Indonesia yang dulu pernah sangat sering diucapkan oleh petinggi
negeri ini. Tetapi, menurut saya, dia sungguh-sungguh mengangkatnya menjadi
sikap dan landasan kreatif kepenyairannya.
Agar bisa bebas dan aktif,
ujarnya, penyair harus terus-menerus belajar – dan kelak bisa kita lihat
jejak-jejak Thukul belajar di dalam sajak-sajaknya. Belajar itu mutlak,
katanya. Penyair, ujar Thukul yang tak tamat Sekolah Menengah Karawitan
Indonesia (SMKI) jurusan tari ini, harus memperluas wawasan dan cakrawala
pemikiran. Kenapa? Karena hal itu menunjang kebebasan jiwanya dalam berkarya.
Sajaknya: Melawan Kebisuan!
Buku “Aku Ingin Jadi Peluru”
bolehlah kita anggap sementara ini sebagai kumpulan terlengkap sajak-sajak Wiji
Thukul. Penerbit Indonesiatera menyebutkan buku ini menampilkan hampir semua
sajak Thukul, termasuk yang ditulis selama ia sengaja menghilang dan kemudian
dihilangkan dan hingga kini tidak diketahui nasibnya. Tanpa mengurangi nilai
sajak-sajak pada periode sebelumnya, maka buat saya sajak-sajaknya selama masa
bergerak di bawah tanah itu adalah sajak-sajak yang sangat bernilai.
Ada sejumlah sajak dalam buku ini
yang tidak dicantumkan tanggal penulisannya. Jika yang jadi rujukan adalah
sajak berangka tahun, maka sajak tertua di buku ini ditulis pada saat si
penyair berusia 20 tahun. Ia lahir tahun 1963, sajak-sajaknya yang paling
sulung bertahun 1983. Ini usia yang sangat muda bagi seorang penyair. Saya
yakin Thukul sudah menulis puisi sebelum tahun itu.
Apakah sajak bagi seorang Thukul?
Kenapa Thukul menulis sajak? Kita bisa menemukan jawaban itu dalam beberapa
sajaknya. Mari kita ambil petikannya:
sajakku
adalah kebisuan
yang sudah kuhancurkan
sehingga aku bisa mengucapkan
dan engkau mendengarkan
sajakku melawan kebisuan
(sajak, 1988)
Thukul menyair karena ia ingin
mengucap. Ia ingin orang mendengar deritanya. Ia tak ingin jadi pahlawan. Itu
diucapkannya dalam wawancara yang dikutip di halaman-halaman akhir buku ini.
Kalau ia bercerita tentang nasib tak enak rakyat kecil, maka katanya, yang ia
ceritakan itu adalah nasibnya sendiri. Kalau ia menyebut tukang becak, maka
ayahnya memang tukang becak. Itu bukan metafora, bukan imajinasi yang ia reka.
Pada dua bait awal sajak berjudul “Sajak” tadi ia menulis: Sajakku adalah
kata-kata / yang mula-mula menyumpal di tenggorokan / lalu dilahirkan ketika
kuucapkan // sajakku adalah kata-kata / yang mula-mula bergulung-gulung dalam
perasaan / lalu lahirlah ketika kuucapkan.
Pilihan menyair bukan pilihan
yang mudah buat ia. Ia risau dan bimbang dengan manfaat sajak yang ia tulis.
Kerisauan itu jelas sekali terbaca dalam sajaknya “Apa yang Berharga dari
Puisi”. Ini sajak ia tulis di tahun 1986. Ia belum menikah. Dan sepertinya ia
sudah “menjadi” penyair. Ia sudah sadar di mana posisi kepenyairannya. Ia
menutup sajak itu dengan bait akhir yang menarik: “Apa yang telah kuberikan /
Jika penonton baca puisi memberi keplokan?”.
Sebelumnya di sepanjang bait
pertama yang panjang itu, ia menulis “Apa yang berharga dari puisi?”.
Larik ini menjadi semacam anafora
jika dianggap sebagai awal dari bait. Ia mengulang-ulang pertanyaan itu lantas
menjawab dengan jawaban yang meragukan nilai puisinya sendiri. Nilai sajak, dan
manfaat menjadi penyair ia benturkan dengan kenyataan pahit bahwa adiknya telat
bayar SPP, becak bapaknya rusak, ibunya terjerat utang, harga-harga bahan pokok
semakin mahal, dan mereka tak punya rumah.
Saya kira ada satu atau sekian
kali, Thukul pasti pernah ingin berhenti menyair. Tapi toh, setelah tahun-tahun
itu sajak-sajaknya terus saja lahir. Dua tahun setelah sajak yang gamang itu ia
telah yakin pada pilihan menyairnya: sajakku melawan kebisuan!
Komentar
Posting Komentar