Pagi-pagi sekali
Dari jendela kamar,
pagi-pagi sekali
Kabut membuat kursi
taman menghilang
Orang-orang bergerak
lebih cepat ke segala arah
Kota tampak hitam
putih. Daun-daun gemetar
Kehijauan direbut
musim dingin di Manhattan
Kuangkat gelas kopiku
ke langit abu-abu
Meniru Li Po yang
bersulang pada rembulan
Mengenang kekasih
berupa bayang-bayang
“Apakah di rumah
leluhur masih terdengar
suara yang
mendendangkan tembang Jawa?”
Tadi malam bahkan
hampir setiap malam
Aku masih menjelajah
lautan sunyi tak bernama
Dijajah insomnia
hingga kehilangan jam bercinta
Dari jendela kamar,
pagi-pagi sekali
Kulihat burung camar
tersesat dalam salju
Suaranya terus
memekik memanggili namamu.
-M. Anton Sulistyo
One-UN, 2014.
Sumber: Riau Pos, 28
Desember 2014.
Komentar
Posting Komentar