Mata Penyair
Ketika terbuka
jendela, terdengar hirukpikuk
kota. “Apa saja yang sudah kuberikan padamu,” kata
penyair, “kecuali nyawaku ini yang teraniaya.”
Rakyat yang
miskin merangsak kemuka. “Kami ingin
matamu!” teriak mereka. “Kami ingin matamu, yang bisa
merobah butir pasir yang tercecer dari karung menjadi
emas di jalan. Beri matamu, matamu!”
Ada yang masih
mau membela penyair itu. “Ingat,
tanpa mata penyair menjadi buta!”
Tetapi rakyat
yang putus asa tidak peduli. Mereka
renggut mata penyair dari lubang matanya, dan lewat
kedua bola matanya mereka melihat dunia sekelilingnya.
Tetapi pasir yang tercecer tidak menjadi emas. Mereka
menjadi kecewa dan merebus dan melahap kedua bola
mata itu. Dan tidak terjadi apa-apa.
Penyair yang
buta itu duduk di jendela dan tertawa
menghadap ke kota. Tanpa mata dilihatnya semua begitu
indahnya. Begitu indahnya!
- Subagio Sastrowardoyo
Sumber: Horison, No. 7, Thn. XXVII, Juli 1993
Yayasan Hari Puisi
Komentar
Posting Komentar