Jarum yang Tanggal

Di dinding kelas yang mulai pucat,
sebuah jam tua masih berdetak pelan.
Jarumnya berputar seperti guru sepuh
yang sabar menjelaskan waktu
tanpa pernah meminta tepuk tangan.

Namun pagi ini
ia diturunkan diam-diam.
Diganti angka menyala
yang tak perlu ditebak,
tak perlu dipahami arah,
tak perlu mengenal lingkaran.

Anak-anak bersorak kecil,
“Lebih mudah membaca waktu.”
Dan dunia mengangguk cepat,
sebab kini segalanya harus instan—
bahkan untuk memahami pukul berapa.

Padahal dahulu
kami belajar dari jarum panjang
bahwa hidup selalu berputar.
Dari jarum pendek
kami mengerti sabar berjalan sedikit demi sedikit.

Jam analog bukan sekadar alat,
ia latihan membaca gerak,
latihan menerka,
latihan berpikir perlahan
di tengah zaman yang gemar terburu-buru.

Kini angka digital menyala terang,
tegas tanpa ruang ragu.
Tapi entah mengapa
dinding kelas terasa lebih sunyi,
seolah ada pelajaran kecil
yang ikut dicabut bersama paku jam itu.

Komentar

Postingan Populer